A Bizarre Girl

Aku baru saja keluar dari Panakukkang Mall. Tak dinyana, hujan mengucur begitu deras. Padahal 2 jam yang lalu matahari masih panas menyengat para tukang becak yang berjejaran menanti penumpang di jalan boulevard. Gedung Diamond Mall yang megah, berdinding kedap suara bak istana raja, menenangkan pengunjungnya bahwa di luar tidak terjadi hujan. Cardigan mahal yang baru saja kubeli seminggu yang lalu di tempat ini menjadi penolong. Untuk sementara, dia bisa melindungiku dari hujan. Kulepaskan dari tubuhku dan kutelungkupkan di kepalaku. Bersiap lari menghalau hujan.

Tak sempat. Seorang gadis kecil berusia sekitar 11 tahun menghampiriku. Dia tahu betul akulah sasarannya berikut. Memegang payung berlabel salah satu merek motor. Cukup besar bisa menampung lima orang sekaligus. Rambut acak-acakan, kelihatan tak pernah disisir, diikat dengan karet gelang yang biasa dipakai mengikat nasi bungkus harga 2500-an. Belum lagi mid-dress selutut yang tampak lusuh, robek di bagian renda. Aku pura-pura tak melihat. Aku sudah tahu maksudnya. Dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah suka didekati makhluk pemaksa seperti mereka.

Tak kupedulikan. Dia masih tetap berdiri di hadapanku. Menatapku dengan raut wajah memelas namun tak memaksa. Bibir kelu. Mata sendu. Sebenarnya mau apa dia. Kali ini aku berpandangan lain. Dia berbeda. Tidak seperti anak-anak lain setali tiga uang dengannya, yang membuatku trauma. Aku pun tak bersuara. Jua tak ada guna aku bersuara. Cukup lama ia berdiri, namun tetap kelu. Pikirku ia bisu. Selang beberapa detik. Ia memilih mundur. Karena tak ada tanda-tanda dariku memakai jasanya.

Tapi kali ini, tak bisa kubiarkan. Entah kenapa hatiku tergerak. Kasihan bercampur penasaran mungkin itulah yang terjadi.

“Dik, bisa minta tolong. Antarkan sampai di parkiran samping ya?” kusapa ia. Padahal sebenarnya aku bisa langsung berlari. Tak perlu memakai jasanya. Cardigan di kepalaku kukenakan kembali di badanku.

Ia berbalik. Masih dengan tatapan sendu itu. Apakah dia berpikir aku cuma sekadar minta tolong. Setelah itu lari tanpa bayar. Kulihat tak ada tanda senang di wajah yang baru saja dapat rejeki itu.

“Tenang saja, Dik. Kakak bakalan bayar kok.” Tetap tak bersuara. Tuna wicarakah? Atau lebih dari itu. Autis. Ups, praduga berlebihan.

Akhirnya ia memayungiku. Pundakku terasa lelah menunduk. Kuganti, aku yang memayunginya. Sampai juga di mobil Honda Jazz silver kesayanganku pemberian orang tua. Aku memegang gagang pintu. Hampir lupa. Gadis kecil itu kuabaikan. Aku belum memberi tip. Kubuka dompet kulitku bermerek channel hadiah dari pamanku di negeri Paman Sam. Tak ada uang yang layak diberikan. Hanya ada 4 lembar uang 50 ribu dan ATM dari berbagai macam bank. Kuraba kantong celanaku. Untung saja, ada selembar uang 5 ribu sisa kembalian beli rokok semalam. Ia masih termangu. Menatapku aneh. Apakah kebanyakan atau justru kurang? Ah, tak peduli lagi. Kubuka pintu mobilku lalu kuhentakkan. Mobilku melaju.

***

Siang ini, usai mengikuti mata kuliah teori politik. Seperti biasa, kebiasaan buruk mahasiswa ialah nongkrong gak jelas. Di tangga baruga dekat fakultasku, itulah tempat pembunuh waktu kami. Sambil melirik cewek-cewek yang berlalu-lalang. Dan juga sesekali mengomentari mereka. Ya, kebiasaan para lelaki.

Bukan hanya mahasiswa yang berlalu lalang, para pengais rejeki pun ambil bagian. Kebanyakan mereka anak-anak yang putus sekolah. Mulai dari penjual koran, penjual manisan, penjual pulpen, pemulung sampah, penjual jalangkote’ (baca:pastel) bahkan ada yang bisanya cuma mengemis. Sel-sel saraf di otak teman-temanku mulai bekerja membentuk ide jahil mengerjai mereka. Termasuk aku.

Aku pikir aku sedang bermimpi. Kujumpai wajah serupa menenteng keranjang berisi jalangkote’. Ini bukan mimpi. Dia memang gadis kecil itu. Kali ini dia pada profesi yang lain. Dia mendekat, bermaksud menawarkan jajanannya. Aku berteriak sangat keras “jangan kemari!” Tapi cuma bisa di hati. Percuma. Dia cukup berani. Tidak takut dengan tampang jahil teman-temanku bak serigala ngiler melihat domba.

Sudah terlanjur. Fandy memulai aksinya. Dia merebut keranjang jalangkote’ itu dan bertingkah seolah penjual jalangkote’. Teman-teman pun menyambut dengan tawa mereka yang bermakna mengolok. Tak bisa kucegah. Tapi, gadis kecil ini sama sekali tidak bereaksi. Berbeda dengan sepantarannya yang biasanya langsung menangis atau memelas sambil memohon. Lalu kabur setelah barangnya dikembalikan.

“Fandy, kembalikan miliknya.” Bisikku pelan.

“Biarin aja. Asyik tahu.”

Kasihan itu muncul lagi. Hanya pada gadis kecil itu. Aku merebut keranjang itu dari Fandy dengan kasar. Mereka semua terhenyak kaget. Kuberikan pada gadis kecil itu disertai uang 10 ribu. Tak ada ekspresi. Dia berlalu begitu saja. Kali ini pradugaku itu mungkin benar. Tak salah lagi. Hanya dua alternatif. Bisu atau autis.

***

Suhu derajat sekitar 30-an membakar Kota Makassar. Mobil Honda Jazz-ku-yang baru di-cleaning tadi pagi mulai berdebu akibat melintasi jalan raya Urip tepat di pembangunan jembatan layang itu. Di samping Graha Pena, tampak beberapa pengais rejeki menawarkan koran. Aku seperti melihat fatamorgana oase di gurun. Gadis bizarre itu lagi. Lebih tepat rasanya menyebutnya bizarre daripada bisu atau autis.

What a bizarre thing! Dia bekerja sebagai loper koran. Alternatif pertama bahwa ia bisu adalah salah. Dia bahkan lancang berteriak, “Koran…koran…!” Sudah tiga profesi yang kuketahui dia jalani. Kudekatkan mobilku, membeli korannya. Tiba-tiba ia diam seribu bahasa. Apakah cuma di depanku ia bertingkah begitu? Pertanyaan yang menggantung.

Akhir-akhir ini hidupku berubah setelah bertemu dengannya. Aku jauh lebih santun dan juga dermawan. Paling tidak itulah yang kurasakan saat ini. Yang kusadari memang masih sangat jauh dengan pribadi uswatun hasanah rasulullah. Sejauh menembus luar angkasa di luar galaksi bimasakti bahkan lebih.

***

Sebulan berlalu. Gadis kecil itu tak pernah lagi kujumpai. Aku ingat pertama kali bertemu dengannya. Ya, di tempat ini. Diamond Mall. Juga persis dalam suasana hujan seperti ini. Aku diam, tak beranjak. Kupandangi sekeliling Mall itu, masih banyak anak-anak ojek payung. Kutelisik satu persatu tak kudapati ia. Tiba-tiba…

“Payung, kak.” Suara berasal dari samping kiriku. Aku berbalik ke samping. Oh, ini benar-benar utopis. Payung yang sama milik gadis kecil itu. Namun yang memegang jauh lebih tua darinya. Kalau dilihat sekitar setahun di bawahku. Mirip. bahkan sangat mirip. Kenapa pertumbuhannya begitu cepat? Oh, tidak. Ada yang salah denganku. Ini pasti utopis sungguhan. Gadis itu tersenyum manis. Cantik. Meskipun dibalut dengan mid-dress lusuh. Rambutnya lurus tertata rapi. Baru kali ini aku melihat gadis miskin, kumuh, gelandangan sepertinya, tapi cantik.

“Apa kau pernah bertemu denganku sebelumnya di tempat ini?”

Ia menggeleng.

“Kalau di kampus Unhas, pernah?”

“Ah, yang benar saja. SMP aja aku gak tamat.”

“Kalau di dekat Graha Pena?”

Ia tetap menggeleng.

Lalu siapa gadis ini? Dia bukan gadis kecil itu. Pastilah memang bukan. Mustahil ia tumbuh begitu cepat.

“Mungkin yang kau temui itu adalah adikku.” Ia berujar. Seperti tahu apa yang sedang berkontraksi dikepalaku. Pas sekali. kata-kata itu keluar menjawab kebingunganku.

“Owh, pantas… aku sampai kaget melihatmu.”

Dia tertawa. Aku pun ikut tertawa. Lama berselang.

“Jadi, mau diantar?”

“Oh, iya..iya..” ucapku menghentikan tawaku.

Dipublikasi di Cerpen | Tinggalkan Komentar